
'Rokok' sampai hari ini masih menjadi makhluk aneh. Disatu sisi dia dipuja-puja karena menjadi primadona penerimaan negara tetapi di sisi lain, rokok menjadi momok tentu terutama bagi mereka yang tidak merokok. Ribut-ribut pengharaman rokok oleh MUI sempat menimbulkan berbagai macam komentar dari berbagai pihak. Komisi Perlindungan Anak, Pengusaha, Anggota Dewan saling bersilang kata menanggapinya. Termasuk PKS yang getol mendukung pengharaman ini. Akhirnya MUI bilang tidak ada fatwa tentang rokok dan sekarang katenye pengharaman rokok akan dilakukan bertahap dimulai dari larangan terhadap anak-anak.
Lepas dari pro kontra tersebut, harus diakui bahwa rokok sudah begitu lekat dengan keseharian masyarakat kita. Dimanapun tempat dapat kita jumpai orang merokok. Bahkan kalau boleh di pesawatpun ingin merokok. Intinya, perokok selalu berusaha mencuri-curi kesempatan untuk merokok. Apalagi di WC, lagu wajib katanya!
Tidak terkecuali di pesantren. Banyak pesantren yang mengharamkan rokok tetapi tidak sedikit pula yang yang membebaskannya. Pada pesantren tertentu akhirnya santri dikategorikan dua, yang kibar (dianggep udah gede) boleh, sementara yang sighar (masih kecil) tidak boleh ngrokok.
Saking lekatnya pesantren (salaf) dengan rokok sampai-sampai muncul istilah-istilah guyonan diantara mereka. Tentu bersumber dari istilah-istilah arab yang akrab dengan keseharian mereka. Kalo mau ngajak ngrokok ada yang bilang irkauuu ma'arrokiiin. Perokok juga disebut ahli hisab kadang-kadang malah ahlinnar. Ada juga yang menyebut ashabul udud!
Berikut salah satu kejadian tak terlupakan berkait dengan rokok dan pesantren:
Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.
Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai.
Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok.
"Kang, join rokoknya ya..." katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjuknya.
Temannya langsung menyerahkan rokok yang dipegangnya.
Santri perokok langsung mengisapnya. "Alhamdulillah, nikmatnya..." katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.
Rokok semakin menyala, dan... dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintai rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga... Rokok semakin meyala terang.
Ternyata... yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.
Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.
Sang kiai marah besar: "Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang..."
ade-ade aje....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar