Jujur, kita iri ya... Adakah keindahan yang lebih dari 'berjumpa' dengan Allah dan merasa teramat kecil di hadapan kebesaranNya. Adakah kenikmatan yang mampu melebihi nikmatnya 'bertemu' rasulullah, sang pujaan hati! Kapan giliran kita atau adakah catatan nama kita sudah tersemat disana. Peran apa yang harus kita mainkan di tengah masyarakat sehingga menjadi salah satu sebab berkesempatan menjalankan rukun Islam kelima. Jangan-jangan dalam list Nya pun kita tidak tercantum.
Mungkin karena dulu dia jadi Koti (koord tingkat) sehingga kini berkesempatan no. 1 naik haji dibanding kita-kita yang cuma makmum (he...he...he...).
Wis mbuh, mbuyak kata mas Ari Ngawi. Mungkin kita masih teramat banyak dosa. Atau kita masih methakil, kakean usil, licik, banyak maksiat. Intinya, belum istiqomah. Hati kita belum menep.
Yang penting, kita sangoni saja Mas Tofik sekalian dengan doa semoga menjadi haji mabrur (arep nyangoni duit wong yo ra luwes, dikiro sombong....).
astaudiullaha dinaka waamanataka wakhowatima amalika fi hifdhillahi wakanafihi. zawwadakallah attaqwa waghafara dzambaka wayassara laka alkhoira ainama kunta.
kisah berikut semoga memperkaya bekal mas Tofik bahwa ketulusan niat menjadi modal utama dan sangat berharga dalam beribadah, tidakterkecuali ibadah haji.
Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam - macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho katannya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”
Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya” Ucapnya.
Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Mesir. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.
Siapa Nyusul Mas Tofik.............
Buat Mas Taufik kita turut panjatkan do'a mudah2an selamat sampai tujuan, dimudahkan menjalankan semua rukun & sunah serta kembali ke tanah air dengan bekal haji mabrur. Semoga Insya Allah kita semua bisa segera menyusul kesana. Amien. Sing paling pantes nyusul berikutnya sakjane Mas Udin, ilmu wis mumpuni, niat wis , tinggal budhal. tak dongakno Mas. Nek wis celuken konco2....
BalasHapusamin...amin...
BalasHapus