Suatu hari seorang guru Bahasa Indonesia, yang cenderung ke sastra dan filsafat, meminta salah satu muridnya maju ke depan kelas. Pak guru yang mirip Einstein ini dimata murid-muridnya rodo medeni, tapi sebenarnya baik hati. Setelah siap, dengan mimik serius pak guru memberikan instruksi, “Silakan hadapkan kepala ke atas, kedua tangan di belakang.” Tentu saja semua murid tegang, lebih-lebih murid yang didepan kelas.
“Sekarang jawab pertanyaan saya” kata pak guru melanjutkan perintahnya, “Berapa jumlah kancing bajumu?! jawab dengan tepat tanpa melihat kebawah apalagi menghitungnya!”. Blaik! begitu barangkali pikiran yang muncul. Tentu saja sang murid pringas pringis, sebuah indikasi nyata akan ketidaksiapan menjawab pertanyaan dengan tepat. Sementara sang murid berusaha keras mengira-ira jumlah kancing baju yang dipakai, murid yang lain mulai sibuk melihat kancing baju masing-masing dan menghitungnya, takut jangan-jangan sebentar lagi giliran dia yang diperintah maju.
“Lima, Pak” jawab sang murid dengan ragu. “Lima?!….Coba sekarang hitung sendiri berapa jumlahnya!” dengan sigap sang murid meraba jumlah kancing bajunya dan dengan agak malu-malu dia menjawab, “ehm…Enam.”
Setelah sang guru menyuruh muridnya duduk kembali suasana hening. Murid-murid menanti dengan agak cemas. Kata pak guru kemudian, “Inilah yang perlu kita latih bersama sejak dini. Cobalah untuk memulai sesuatu dengan melihat hal-hal kecil di sekitar kita. Perhatikanlaha mereka semua. Perlengkapan sekolah, keluarga dan lingkungan. Kepedulian kita kepada kondisi di sekitar kita akan melatih kepekaan kita terhadap lingkungan. Dan orang-orang besar dapat menjadi besar karena lebih sering berangkat dari memperhatikan hal-hal kecil….”
Itulah sepenggal adegan yang masih sangat membekas dalam ingatan, selain ‘khutbah’ beliau yang lain sebagai upaya memperkenalkan dunia sastra di SMAN 7 Jogjakarta, 21 tahun yang lalu!
Demikianlah. Kita ternyata tidak ditakdirkan untuk menciptakan hal-hal besar. Kita dilahirkan untuk berbuat hal-hal yang kecil agar menjadi besar.
Kita bukanlah apa-apa. Bahkan, seperti kata cak nun, kita bukanlah siapa-siapa.
Kita semoga saja hanyalah hamba yang berusaha memahami posisi yang sesungguhnya didepan Sang Kholiq.
Kalaulah sejarah, dalam terminologi arab sejarah syajarotun berarti pohon yang bercabang-cabang, kita hanyalah ranting atau bahkan anak ranting yang paling rapuh yang berusaha untuk memiliki peran dalam mengalirkan air sampai kepada daun, sebagai penerus ’sejarah’ kita.
Amin…
wallahu a’lam.
Rabu, November 12, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sip, sugeng rawuh. Monggo2 ingkang badhe manfaataken...
BalasHapusBoss foto2 reuni di Solo mbok ditampilkan disini, sekalian menerima kiriman foto dari alumni yg lain. Ben ketok rukun, Oyi?
BalasHapusya, ok nunggu kiriman dr tmn2
BalasHapussugeng pepenggihan wonten mriki mbok bilih kagungan uneg2 monggo sami2 dipun rembag sareng2. matur nuwun.
BalasHapus