Selasa, Desember 30, 2008


Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyyah
Semoga Kebaikan Senantiasa Terlimpah Sepanjang Tahun
Barokallah biumrikum jamian!

Welcome Home, wak Kaji...

Menilik jadwal kepulangan jamaah haji, Mas Tofik mestinya sudah pulang dari haji.
Wah selamat, pak haji! Oleh-olehnya dong...........he...he....

Bicara 'oleh-oleh' tentu kita tidak berharap adanya kurma, sajadah atau asesoris ibadah lain yang tiba-tiba sampai ke rumah kita dari sang mantan ketua koti kita, sebagaimana kultur yang semakin menggejala di banyak kalangan saat ini. Bahkan, sesungguhnya calon haji ketika akan berangkat pun tidak perlu kita 'bebani' dengan kata-kata "ojo lali lho...... aku didongakke di sana ben ndang ketularan iso kaji.....". Mengapa? karena kalau jamaah haji kadung menyanggupinya (dan itu berarti menjadi janji) maka kita tidak sadar justru akan menambah kemungkinan jamaah haji berbuat dosa.

Jadi, yang terpenting, kalau bisa kita silaturahmi ke rumahnya pada saat pulang (sekalian menikmati oleh-olehnya to..). Tetapi kalau tidak bisa datang, seperti yang mereka yang bisa bertemu langsung kepada ybs, kita minta didoakan yang baik-baik tentunya. Termasuk semoga dapat mengikuti jejaknya untuk berhaji dan ziarah ke makam kekasihNya, rasullullah Muhammad SAW.

Mumpung, sebagaimana kata para ulama, doa para tamu Allah itu masih 'mandi' betul sampai 40 hari dari kedatangannya. Minta aja jamaah haji berdoa sebanyak-banyaknya dan kita mengamininya. Insyaallah suatu saat, cepat atau lambat doa itu menjadi kenyataan.

Ok, mas Tofik eh Pak Kaji
Semoga menjadi haji mabrur
doakan kami-kami ya....
gen ndang kaji juga.
amiiinnnnnnn

Jumat, Desember 05, 2008

Jadwal Ngobrol Bareng

Dumateng sedoyo alumni,
Kayaknya panjenengan semua pada sibuk-sibuk ya....?
sampe hari ini temen-temen belum banyak masuk.
Dalem usul,
barangkali bisa disepakati nanti :
  1. Blog ini mau diisi apa, opo teko kothongan wae....sing penting ada shoutmixnya
  2. Perlukah diatur kesepakatan kapan bisa online bareng, misalnya malam ahad jam 9 kita ngobrol bareng.
  3. Sosialisasine ke teman2 kudu py...........?

Mohon adfis sampeyan kabeh........................

Rabu, November 26, 2008

Rokok dan Kita




'Rokok' sampai hari ini masih menjadi makhluk aneh. Disatu sisi dia dipuja-puja karena menjadi primadona penerimaan negara tetapi di sisi lain, rokok menjadi momok tentu terutama bagi mereka yang tidak merokok. Ribut-ribut pengharaman rokok oleh MUI sempat menimbulkan berbagai macam komentar dari berbagai pihak. Komisi Perlindungan Anak, Pengusaha, Anggota Dewan saling bersilang kata menanggapinya. Termasuk PKS yang getol mendukung pengharaman ini. Akhirnya MUI bilang tidak ada fatwa tentang rokok dan sekarang katenye pengharaman rokok akan dilakukan bertahap dimulai dari larangan terhadap anak-anak.

Lepas dari pro kontra tersebut, harus diakui bahwa rokok sudah begitu lekat dengan keseharian masyarakat kita. Dimanapun tempat dapat kita jumpai orang merokok. Bahkan kalau boleh di pesawatpun ingin merokok. Intinya, perokok selalu berusaha mencuri-curi kesempatan untuk merokok. Apalagi di WC, lagu wajib katanya!

Tidak terkecuali di pesantren. Banyak pesantren yang mengharamkan rokok tetapi tidak sedikit pula yang yang membebaskannya. Pada pesantren tertentu akhirnya santri dikategorikan dua, yang kibar (dianggep udah gede) boleh, sementara yang sighar (masih kecil) tidak boleh ngrokok.
Saking lekatnya pesantren (salaf) dengan rokok sampai-sampai muncul istilah-istilah guyonan diantara mereka. Tentu bersumber dari istilah-istilah arab yang akrab dengan keseharian mereka. Kalo mau ngajak ngrokok ada yang bilang irkauuu ma'arrokiiin. Perokok juga disebut ahli hisab kadang-kadang malah ahlinnar. Ada juga yang menyebut ashabul udud!

Berikut salah satu kejadian tak terlupakan berkait dengan rokok dan pesantren:

Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.

Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai.

Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok.

"Kang, join rokoknya ya..." katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjuknya.

Temannya langsung menyerahkan rokok yang dipegangnya.

Santri perokok langsung mengisapnya. "Alhamdulillah, nikmatnya..." katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.

Rokok semakin menyala, dan... dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintai rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga... Rokok semakin meyala terang.

Ternyata... yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri.

Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.

Sang kiai marah besar: "Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang..."

ade-ade aje....

Selasa, November 18, 2008

Kecerdasan Wong Jowo itu.......

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah. Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, dan Magelang Gemilang semuanya adalah singkatan.
Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang. Bermula dari Jabotabek, eh sekarang menjadi Jabodetabek. Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya , Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), atau Joglosemar (Jogja Solo Semarang).
Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo. Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang , Kendal), atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten). Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura, Delanggu) atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap).
Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang). Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban.
Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis) , atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem), bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).
Jadi, kalo Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong? Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak. Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter.

Terakhir, yang terlewat dari kreatifitas othak-athik diatas adalah sebuah kota yang sangat terkenal di pantura, yaitu Dewo nDemak (yang menurut ibu-ibu artinya gede dowo gandeme ra jamak).

Pakdhe Jarwo.... lha nek Solo ......Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya, dan Magelang Gemilang, terus Batang tagline nya opo?! Opo yo jih koyo mbiyen? Kemana pula makhluk kecil bernama Tofik 'ndlegek' (bukan tofik koti lho...tapi tofik kecil) yang kini katanya dah gendut itu?!

Mbuh.............

Pojok Nakal

Haikal Muzawwim

Selalu ada ruang pujian bagi diri kita namun kadang tak tersedia ruang untuk segala kesalahan kita. Ada sebuah materi menarik ketika saya menonton talk show Oprah Winfrey di televisi, pada suatu pagi di saat saya sedang suntuk dengan kelakuan adik bungsu saya yang masih berusia 3 tahun. Dalam talk show tersebut, Oprah menghadiran seorang bintang tamu yaitu Super Nanny, dia adalah pengasuh anak paling laris di Amerika.
Konon katanya sudah ratusan kali Nanny berhasil menghadapi tingkah laku anak - anak yang 'nyeleneh' dalam arti hyperactive, kasar, nakal & susah diatur. Nanny hanya mengajarkan satu hal pada anak-anak itu, yaitu : minta maaf &mengakui kesalahan serta berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Super Nanny tidak menggunakan kekerasan fisik, yang sering kita temui pada masyarakat umumnya, dalam mendidik anak-anak 'nakal' itu. Tapi dia menggunakan method, 'tempat nakal'.
Tempat Nakal bisa berupa karpet nakal, bangku nakal, atau kolong nakal. Di sekitar tempat nakal itu tidak dibangun 'benteng' berupa apapun. Jadi, sebenarnya anak-anak itu bisa saja kabur namun mereka tidak bisa pergi karena Nanny mengawasi gerak-gerik mereka.
Anak-anak yang bertingkah kelewat batas akan dimasukkan dalam tempat nakal itu. Mereka tidak boleh dipukul, tidak boleh dimaki kasar apalagi dibentak-bentak. Yang Nanny lakukan hanya meletakkan mereka di tempat nakal itu & diam! Nanny tidak menghiraukan bila anak -anak itu menangis, meraung, memukul-mukulnya bahkan berkata kasar padanya. Nanny hanya berkata, "kamu harus diam di sini sampai kamu sadar apa kesalahan kamu." Setelah itu Nanny pergi.
Dia akan kembali menghampiri anak-anak itu bila mereka berhenti menangis. Dia akan mengeluarkan mereka dari tempat nakal bila sudah meminta maaf pada orang yang telah mereka jahati. Setelah itu, Nanny akan memeluk mereka, mengelus punggung mereka penuh kasih sayang lalu memuji tindakan mereka yang mau meminta maaf. Setelah situasi sudah sedikit membaik, Nanny mulai memberikan pengertian apa kesalahan yang telah mereka perbuat.
Aku mencoba untuk menerapkannya pada adik bungsuku yang memang sudah mulai terlihat bandel. Aku meletakkannya ke pojok nakal yang ada didalam kamar mamaku. Aku melakukan itu karena ia memukul wajah mama dengan sangat keras ketika tidak dibelikan mobil-mobilan. Saat aku meletakkan dia di pojok nakal, ia memukulku, aku mencoba diam, meniru sikap Nanny.
Adikku berontak, ia berlari keluar kamar & aku menariknya kembali ke pojok nakal. Sampai empat kali seperti itu & adikku capek sendiri.
Dia bilang aku jahat! Dia menangis sedih, sebenarnya hatiku pilu mendengar itu semua. Tapi aku tetap pada pendirianku. Setelah adikku diam dari tangis, aku menghampirinya & berspekulasi, "Apa Ucha tahu apa kesalahan Ucha? Ucha tahu kenapa Ucha masuk ke pojok nakal?"tanyaku dengan keyakinan kalau anak umur 3 tahun sudah paham apa yang kita katakan. Dan adikku menggeleng.
Perlahan aku menjelaskan kesalahan yang ia perbuat, aku lakukan berulang-ulang sampai aku bilang, "Ucha ngerti kalau Ucha salah?"Ia mengangguk. Aku melanjutkan kalimatku, "kalau begitu, Ucha harus minta maaf, ya, sama mama."Iya... mama... maafin Ucha, ya," ujar adikku masih dengan isak tangis. Mamaku sedang ada di ruang tamu. Aku memeluk adikku erat dan membimbing dia keluar dari pojok nakal. Aku menggendongnya dan membawanya ke hadapan mama.
Saat melihat mama, adikku langsung memeluk mama dan berpindah tempat gendongan. Ia tidak menangis meraung lagi, hanya air matanya saja masih menitik.
"Ayo Ucha, minta maaf lagi di depan mama," ulangku.
"Ma... ma... Uchanya minta maaf..." ujar adikku yang membuat gemas.
Aku dan mama menciumi pipinya.
Diam-diam aku salut juga dengan cara Nanny mendidik anak nakal. Terbukti setelah beberapa kali aku memasukkan adikku ke pojok nakal, adikku jadi lebih mudah diatur dan bisa dinasehati dengan baik. Ia tidak perlu dibentak lagi. Secara tidak langsung sikap ini bisa menimbulkan jiwa lembut pada anak serta mengajarkan anak untuk terus instropeksi diri.
Yang lebih hebat lagi, adikku sama sekali tidak takut kalau dia duduk sendirian di pojok ruangan manapun kecuali bila aku bilang, "Itu adalahpojok nakal. Tempat anak nakal berada."
Sejak saat itu aku selalu memberikan ia pilihan ketika ia susah sekali disuruh makan sayur, "mau menjadi anak baik atau anak nakal? Kalau anak baik harus rajin makan sayur. Ucha anak baik atau anak nakal?" Dan adikku selalu menjawab, "Ucha anak baik!"
Malam ini kulihat Ucha tidur terlelap setelah aku mendongenginya sebuah kisah tentang Pangeran Ucha, ya, namanya sendiri. Aku ingin ia bangga pada dirinya namun ia juga sadar pada kelemahan & kesalahannya.
Mataku terpejam.
Terbersit tanya yang mengiris hati. "Apakah aku sudah seperti Ucha? Yang mampu mengakui kesalahanku sendiri? Yang berdiam diri di pojok nakal untuk instropeksi?
Nampaknya aku juga butuh duduk sendirian di pojok nakal dan kita semua sebagai manusia dewasa memang butuh sesekali untuk duduk di pojok nakal. Menemukan kesalahan kita dan segera meminta maaf.
Jadi teringat sebuah syair sebelum aku terlelap malam ini.
Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan
hanya yang berjiwa pemberani yang mau mengakui...

Betapa bahagianya punya banyak teman betapa indahnya
Betapa bahagianya bisa saling menyayangi.. ..--

Jumat, November 14, 2008

Mas Tofik Naik Haji

Kalau tidak perubahan jadwal, Mas Tofik naik haji tahun ini. Tepatnya besok tgl 2o Nopember dari Klaten menuju Embarkasi Donohudan. Selamat! Semoga diberi kesehatan, kekuatan dan kesempatan sehingga dapat menjalankan semua rukun haji dan sunnah-sunnahnya serta juga bisa ziarah ke makam kekasih tercinta, Muhammad SAW!
Jujur, kita iri ya... Adakah keindahan yang lebih dari 'berjumpa' dengan Allah dan merasa teramat kecil di hadapan kebesaranNya. Adakah kenikmatan yang mampu melebihi nikmatnya 'bertemu' rasulullah, sang pujaan hati! Kapan giliran kita atau adakah catatan nama kita sudah tersemat disana. Peran apa yang harus kita mainkan di tengah masyarakat sehingga menjadi salah satu sebab berkesempatan menjalankan rukun Islam kelima. Jangan-jangan dalam list Nya pun kita tidak tercantum.
Mungkin karena dulu dia jadi Koti (koord tingkat) sehingga kini berkesempatan no. 1 naik haji dibanding kita-kita yang cuma makmum (he...he...he...).
Wis mbuh, mbuyak kata mas Ari Ngawi. Mungkin kita masih teramat banyak dosa. Atau kita masih methakil, kakean usil, licik, banyak maksiat. Intinya, belum istiqomah. Hati kita belum menep.
Yang penting, kita sangoni saja Mas Tofik sekalian dengan doa semoga menjadi haji mabrur (arep nyangoni duit wong yo ra luwes, dikiro sombong....).

astaudiullaha dinaka waamanataka wakhowatima amalika fi hifdhillahi wakanafihi. zawwadakallah attaqwa waghafara dzambaka wayassara laka alkhoira ainama kunta.


kisah berikut semoga memperkaya bekal mas Tofik bahwa ketulusan niat menjadi modal utama dan sangat berharga dalam beribadah, tidakterkecuali ibadah haji.

Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.

“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam - macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho katannya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”

Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.

“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya” Ucapnya.

Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Mesir. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan.

Siapa Nyusul Mas Tofik.............

Rabu, November 12, 2008

Kita dan Sejarah

Suatu hari seorang guru Bahasa Indonesia, yang cenderung ke sastra dan filsafat, meminta salah satu muridnya maju ke depan kelas. Pak guru yang mirip Einstein ini dimata murid-muridnya rodo medeni, tapi sebenarnya baik hati. Setelah siap, dengan mimik serius pak guru memberikan instruksi, “Silakan hadapkan kepala ke atas, kedua tangan di belakang.” Tentu saja semua murid tegang, lebih-lebih murid yang didepan kelas.
“Sekarang jawab pertanyaan saya” kata pak guru melanjutkan perintahnya, “Berapa jumlah kancing bajumu?! jawab dengan tepat tanpa melihat kebawah apalagi menghitungnya!”. Blaik! begitu barangkali pikiran yang muncul. Tentu saja sang murid pringas pringis, sebuah indikasi nyata akan ketidaksiapan menjawab pertanyaan dengan tepat. Sementara sang murid berusaha keras mengira-ira jumlah kancing baju yang dipakai, murid yang lain mulai sibuk melihat kancing baju masing-masing dan menghitungnya, takut jangan-jangan sebentar lagi giliran dia yang diperintah maju.
“Lima, Pak” jawab sang murid dengan ragu. “Lima?!….Coba sekarang hitung sendiri berapa jumlahnya!” dengan sigap sang murid meraba jumlah kancing bajunya dan dengan agak malu-malu dia menjawab, “ehm…Enam.”
Setelah sang guru menyuruh muridnya duduk kembali suasana hening. Murid-murid menanti dengan agak cemas. Kata pak guru kemudian, “Inilah yang perlu kita latih bersama sejak dini. Cobalah untuk memulai sesuatu dengan melihat hal-hal kecil di sekitar kita. Perhatikanlaha mereka semua. Perlengkapan sekolah, keluarga dan lingkungan. Kepedulian kita kepada kondisi di sekitar kita akan melatih kepekaan kita terhadap lingkungan. Dan orang-orang besar dapat menjadi besar karena lebih sering berangkat dari memperhatikan hal-hal kecil….”
Itulah sepenggal adegan yang masih sangat membekas dalam ingatan, selain ‘khutbah’ beliau yang lain sebagai upaya memperkenalkan dunia sastra di SMAN 7 Jogjakarta, 21 tahun yang lalu!
Demikianlah. Kita ternyata tidak ditakdirkan untuk menciptakan hal-hal besar. Kita dilahirkan untuk berbuat hal-hal yang kecil agar menjadi besar.
Kita bukanlah apa-apa. Bahkan, seperti kata cak nun, kita bukanlah siapa-siapa.
Kita semoga saja hanyalah hamba yang berusaha memahami posisi yang sesungguhnya didepan Sang Kholiq.
Kalaulah sejarah, dalam terminologi arab sejarah syajarotun berarti pohon yang bercabang-cabang, kita hanyalah ranting atau bahkan anak ranting yang paling rapuh yang berusaha untuk memiliki peran dalam mengalirkan air sampai kepada daun, sebagai penerus ’sejarah’ kita.
Amin…
wallahu a’lam.